ART-017 Sekilas OHSAS 18000 11/28/2009
Kegiatan ekonomi dan produktivitas, selain berdampak pada lingkungan, pada gilirannya akan berdampak pada personil-personil dalam dan/atau luar organisasi tergantung luasnya pengaruh kerusakan lingkungan yang terjadi. Sejak tahun 1950, Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization, ILO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) telah berbagi definisi mengenai kesehatan kerja. Dalam revisi terakhir tahun 1995, definisi dari kesehatan kerja (occupational health) adalah, "Occupational health should aim at: the promotion and maintenance of the highest degree of physical, mental and social well-being of workers in all occupations; the prevention amongst workers of departures from health caused by their working conditions; the protection of workers in their employment from risks resulting from factors adverse to health; the placing and maintenance of the worker in an occupational environment adapted to his physiological and psychological capabilities; and, to summarize, the adaptation of work to man and of each man to his job." Standar OHSAS 18000 merupakan spesifikasi dari sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja internasional untuk membantu organisasi mengendalikan resiko terhadap kesehatan dan keselamatan personilnya. Standar ini diterbitkan oleh komite teknis yang terdiri dari badan standardisasi nasional, lembaga sertifikasi dan para konsultan, diantaranya adalah: National Standards Authority of Ireland, Standards Australia, South African Bureau of Standards, British Standards Institution, Bureau Veritas Quality International, Det Norske Veritas, Lloyds Register Quality Assurance, National Quality Assurance, SFS Certification, SGS Yarsley International Certification Services, dan lain sebagainya. Spesifikasi dan persyaratan diatur dalam OHSAS 18001 dan pedomannya diberikan pada OHSAS 18002. Revisi terakhir adalah tahun 2007. Standar ini juga kompatibel dengan ISO 9000 dan ISO 14000. Umumnya, ke-3 standar ini diaplikasikan sebagai integrated system. Rs/MIN Add Comment ART-016 Sekilas ISO/TS 16949 11/25/2009
Seperti telah diulas sebelumnya, penerapan sistem manajemen mutu ISO 9000 pada industri otomotif diatur secara khusus dalam standar ISO/TS 16949. Standar ini merupakan perbaikan dari standar QS 9000. Edisi pertama dari standar ini terbit pada tahun 1999 mengacu pada ISO 9001:1994. Edisi berikutnya terbit pada tahun 2002 mengacu pada ISO 9001:2000. Dan edisi terakhir terbit pada tahun 2009 mengacu pada ISO 9001:2008. Standar ini disiapkan oleh International Automotive Task Force (IATF) dan Japan Automobile Manufacturer Association (JAMA) yang didukung oleh ISO/TC 176. Keberadaan standar ini guna mengakomodasi sistem operasional dan regulasi khusus pada industri otomotif, meliputi pabrikan dan organisasi pelayanan suku-cadang terkait. Secara umum, prinsip dasarnya sama saja dengan prinsip-prinsip dasar ISO 9000, ditambah penerapan beberapa metode seperti: Advanced Product Quality Planning (APQP), Production Part Approval Process (PPAP), Measurement System Analysis (MSA), Statistical Process Control (SPC), Failure mode and effects analysis (FMEA), Control Plan, dan lain sebagainya. jika pada ISO 9000, pengecualian hanya diperbolehkan pada klausul 7 saja, maka pada ISO/TS 16949 pengecualian hanya diperbolehkan pada klausul 7.3 dengan catatan tidak mempengaruhi kemampuan organisasi menyediakan produk ke pelanggan. Rs/MIN ART-015 Sekilas ISO/IEC 17025 11/23/2009
Sistem manajemen mutu ISO 9000 memang berlaku generic, yaitu dapat diterapkan di semua jenis organisasi. Akan tetapi, kekhususan dapat saja dipertimbangkan mengingat sifat unik organisasi tersebut. Bagi organisasi dalam bentuk laboratorium pengujian dan kalibrasi umumnya mengacu pada standar ISO/IEC 17025. Edisi pertama diterbitkan pada tahun 1999 mengacu pada ISO 9001:1994. Edisi kedua diterbitkan pada tahun 2005 agar sejalan dengan ISO 9001:2000. Standar ini menetapkan persyaratan umum kompetensi dalam melakukan pengujian dan kalibrasi. Standar ini digunakan oleh laboratorium untuk mengembangkan sistem manajemen untuk kegiatan mutu, administrasi dan teknis. Pelanggan, regulator dan badan akreditasi dapat juga menggunakannya dalam melakukan konfirmasi atau mengakui kompetensi laboratorium. Akan tetapi, standar ini tidak ditujukan sebagai dasar sertifikasi laboratorium. Dan meskipun kesesuaian terhadap standar ISO 17025:2005 berarti telah memenuhi prinsip-prinsip dasar ISO 9000, tidak berarti telah memenuhi kesesuaian dengan semua persyaratan ISO 9001:2000 (sekarang ISO 9001:2008). Rs/MIN ART-014 Sekilas ISO 28000 11/20/2009
Milyaran dolar barang-barang dan jasa disalurkan dari produsen ke konsumen melalui serangkaian titik pasokan, mencakup vendor, fasilitas pabrik, pemasok logistik, pusat distribusi internal, distributor, grosir dan entitas lain yang terlibat dalam pabrikasi, pemrosesan, penanganan dan pengiriman barang dan jasa tersebut. Dan karena resiko kerusakan dan ketidaksesuaian produk bisa terjadi di setiap rantai pasokan ditambah insiden keamanan yang mungkin saja terjadi, seperti: boikot, penyelundupan dan terorisme, maka diperlukan pengendalian yang memadai guna melindungi produk tersebut dari akibat yang merugikan. ISO telah menerbitkan spesifikasi ketersediaan publik (public available specification, PAS), yaitu ISO/PAS 28000, dimana standar ini berisi spesifikasi sistem manajemen keamanan bagi rantai pasokan. Penggunaan standar ini akan membantu organisasi dalam menetapkan tingkat keamanan yang cukup pada bagian rantai pasokan internasional yang dikendalikannya. Standar ini juga merupakan dasar untuk menetapkan atau memvalidasi tingkat keamanan yang ada dalam rantai pasokan organisasi bersangkutan oleh auditor internal atau eksternal atau oleh lembaga pemerintah. Standar yang berlaku saat ini adalah ISO/PAS 28001:2007, yang juga kompatibel dengan ISO 9000, ISO 14000 dan ISO 19011, serta telah juga mengadopsi siklus PDCA. Aplikasi saat ini paling banyak di pelabuhan-pelabuhan laut dan udara. Rs/MIN ART-013 Sekilas ISO 10012 11/17/2009
Seperti kita ketahui, persyaratan mengenai pengukuran telah termaktub dalam klasul 7.6 dan 8 pada ISO 9001:2000 (dan 2008 tentunya). Akan tetapi, pada jenis organisasi tertentu seperti manufaktur, diperlukan suatu sistem manajemen pengukuran (measurement management system, MMS) untuk mengelola dan mengendalikan proses pengukuran dan alat ukur dalam rangka menjaga kesesuaian spesifikasi produk serta mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku bagi produk tersebut. ISO menerbitkan standar nomor 10012 pada tahun 2003 yang berisi persyaratan-persyaratan bagi proses pengukuran dan alat ukurnya. Penerapan ISO 10012:2003 bukanlah dimaksudkan sebagai pemenuhan terhadap sertifikasi ISO 9000 dan/atau ISO 14000 - yang meskipun kompatibel, tapi berdiri sendiri. Meskipun demikian, sertifikasi terhadap sistem ini tidak menjadi suatu persyaratan bagi organisasi yang menerapkan MMS, cukup agreement antara pelanggan dengan pemasoknya. Rs/MIN ART-012 Sekilas ISO 27000 11/15/2009
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology, ICT) yang sangat pesat telah begitu mempengaruhi perkembangan bisnis dan aspek kehidupan lain secara umum dan karenanya menjadi aset penting yang perlu diproteksi. ISO telah mengadopsi sistem manajemen keamanan informasi (information security management system, ISMS) dari BS 7799 menjadi ISO/IEC 27000. Sistem ini merupakan pendekatan sistematis dalam mengelola dan mengendalikan sistem informasi organisasi sedemikian rupa sehingga memenuhi 3 aspek, yaitu: (1) Confidentiality: menjamin informasi hanya bisa diakses oleh pejabat yang berwenang (2) Integrity: menjamin informasi tetap akurat, lengkap dan hanya bisa diperbaharui oleh pejabat yang berwenang (3) Availability: menjamin informasi dapat selalu diakses oleh user yang diberi kewenangan Sistem ini juga kompatibel dengan sistem manajemen mutu ISO 9000 dan lingkungan ISO 14000. Bagi organisasi yang sistem informasinya menjadi aset kritis yang mesti dilindungi dan dikelola serta berperan penting dalam proses bisnis utamanya, dapat mengambil sertifikasi dengan cara mematuhi persyaratan-persyaratan yang ada pada ISO/IEC 27001:2005 (diadopsi dari 7799-2). Sedang pedoman bagi perencanaan dan penerapan ISMS serta daftar kode kendali diatur dalam ISO/IEC 27002:2005 (menggantikan ISO/IEC 17799 yang diadopsi dari BS 7799-1). Rs/MIN ART-011 Sekilas ISO 22000 11/14/2009
Sebelum diterima dan dikonsumsi pelanggan, pangan melalui suatu rantai pasokan yang panjang dan melalui berbagai macam organisasi mulai dari produsen hingga pengecer. Karena itu, potensi bahaya akibat penanganan pangan yang kurang baik di tiap titik rantai pasokan tersebut akan dapat membahayakan jiwa dan kesehatan pelanggan yang mengkonsumsinya. ISO sejak tahun 2002 telah mengembangkan suatu standar internasional yang tidak hanya mengatur mengenai analisis resiko pada titik-titik rantai pangan tersebut atau dikenal dengan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point), tapi juga sekaligus melakukan improvement melalui sistem manajemen mutu ISO 9000. Dengan kata lain, ISO 22000 merupakan integrasi antara HACCP dengan ISO 9000. Akhirnya pada tanggal 3 Juni 2004, ISO menerbitkan ISO/DIS 22000 dan September 2005 menerbitkan ISO 22000:2005, Food safety management systems (FSMS) - Requirements. Jadi, bagi organisasi dalam rantai pangan yang ingin mengambil sertifikasi ini mesti mematuhi persyaratan-persyaratan pada ISO 22000:2005. Panduannya sendiri diberikan pada ISO/TS 22004:2005. Dan dengan sertifikasi ini, organisasi tidak perlu lagi mengambil sertifikasi HACCP dan/atau ISO 9000 lagi. Rs/MIN ART-010 Sekilas ISO 14000 11/14/2009
Standar ISO 14000 merupakan salah satu standar internasional yang telah dikenal luas. Standar ini dikeluarkan oleh ISO dengan tujuan utama untuk membantu organisasi mengelola dan mengendalikan dampak lingkungan akibat kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh organisasi yang bersangkutan. ISO sendiri telah melakukan pengembangan standar 14000 ini sejak tahun 1991, namun baru pada tahun 1996 secara resmi dipublikasikan sebagai standar ISO 14001:2006. Meskipun demikian, penerapannya telah dimulai sejak tahun 1995 melalui draft standar 14000. Revisi terakhir adalah ISO 14001:2002. Bagi organisasi yang ingin mengambil sertifikasi ISO 14000 harus mematuhi persyaratan-persyaratan pada ISO 14001. Pedomannya penerapannya sendiri diberikan pada ISO 14004. Dan pedoman audit lingkungan, bersama dengan manajemen mutu, diatur dalam ISO 19011:2002 - yang juga kompatibel dengan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja OHSAS 18000. Standar ISO 19011:2002 ini sekaligus mengganti standar ISO 14010, ISO 14011 dan ISO 14012 yang diterbitkan tahun 1996. Rs/MIN ART-009 Sekilas ISO/IWA 2 11/13/2009
ISO telah menerbitkan panduan khusus bagi organisasi di sektor pendidikan yang ingin menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9000. ISO/IWA 2: sIstem manaJemen MUTU - Panduan untuk menerapkan ISO 9001:2000 pada sektor pendidikan, berisi uraian lengkap persyaratan ISO 9001:2000 berikut keterangan khusus yang mudah dipahami dan diterapkan oleh organisasi/institusi pendidikan. Meskipun ISO 9000 berlaku generik, namun panduan ini dikeluarkan guna memudahkan institusi pendidikan dari level, meliputi: pendidikan dasar, menengah, atas, universitas dan pendidikan jarak jauh serta e-learning, menerapkannya secara efektif. Meksiko merupakan negara yang berinisiatif menerbitkan panduan ini. Melalui workshop yang diselenggarakan di Acapulco, Meksiko pada bulan Oktober 2002 akhirnya berhasil diterbitkan edisi pertama ISO/IWA 2:2003. Workshop berikutnya diselenggarakan di Busan, Korea pada bulan November 2006 dan menghasilkan ISO/IWA 2:2007. Rs/MIN Terdapat banyak alasan mengapa organisasi berkeinginan mengambil sertifikasi ISO 9001:2008 ini. Meskipun demikian, banyak terjadi kekeliruan dalam menerapkan sistem tersebut sehingga keuntungan-keuntungan yang diharapkan dari sistem ini tidak optimal. Berikut adalah 10 (sepuluh) kekeliruan yang paling sering terjadi saat menerapkan SMM ISO 9001 tersebut: 1. Dasar alasan mengambil sertifikasi adalah sekedar prestise, bukan untuk peningkatan keuntungan bisnis jangka panjang, 2. Tidak ada komitmen dari pimpinan puncak, 3. Penyediaan sumber daya pendukung tidak memadai, 4. Gagal dalam memperlakukan konsep perubahan sebagai proses berjalan, bukan sebagai proyek sekali jadi, 5. Penetapan batasan waktu yang tidak realistis, 6. Gagal dalam menerapkan sistem ini ke organisasi secara keseluruhan karena menganggap sistem ini hanya cocok untuk fungsi-fungsi operasional seperti manufaktur, 7. Gagal dalam memberikan pelatihan yang memadai kepada personil mengenai cara bagaimana menerapkan perubahan, 8. Mendokumentasikan SMM ISO 9001 sebelum sistem ini didefinisikan dan didesain secara tepat dalam organisasi, 9. Meyakini bahwa penerapan hanya sebatas dokumentasi prosedur-prosedur, bukan untuk peningkatan hasil-hasil, dan 10. Penerapan sistem ini dilakukan sebelum dilakukan pemeriksaan dan peninjauan yang seksama terhadap sistem yang ada. Rs/MIN | ArchivesFebruary 2012 CategoriesAll |
RSS Feed